Kakanwil Kemenag DIY: Pesantren Kuat Jika Sistem, Struktur, dan SDM Bergerak Bersama

Kakanwil Kemenag DIY: Pesantren Kuat Jika Sistem, Struktur, dan SDM Bergerak Bersama

Yogyakarta – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum menyampaikan, bahwa penguatan pesantren sebagai pilar pembangunan bangsa harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sistem, struktur kelembagaan, hingga Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat di dalamnya.

Menurutnya, berbicara tentang pengembangan pesantren tidak cukup hanya melihat potensi internal pesantren semata, tetapi juga kesiapan negara dalam menata regulasi dan struktur pendukungnya.

“Pertama kita bicara dari sisi sistem. Apakah sistem dan regulasi sudah mengatur dan memberikan kewenangan yang cukup kepada pesantren untuk bergerak dan berkembang. Kedua, dari sisi struktur, apakah pemerintah sudah menjamin adanya struktur yang benar-benar mendampingi pesantren menuju cita-cita yang diharapkan. Baru kemudian yang ketiga adalah SDM,” ujar Ahmad Bahiej saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin siang, (26/01/2026).

SDM Pesantren Adalah SDM Bangsa

Ia menekankan, bahwa SDM pesantren tidak boleh dipandang sempit. SDM yang dimaksud mencakup SDM pemerintahan, SDM pesantren, dan SDM masyarakat yang harus bergerak bersama. “Kita tidak hanya bicara SDM pesantren. SDM di pemerintahan juga harus siap mendukung bahwa pesantren adalah salah satu elemen penting bangsa ini dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan dan pembangunan nasional,” tegasnya.

Ahmad Bahiej juga menepis stigma lama terhadap lulusan pesantren. Menurutnya, pesantren telah lama melahirkan SDM unggul yang berkiprah di berbagai bidang strategis. “Jangan lagi ada anggapan bahwa SDM pesantren itu kolot, sarungan, dan tertinggal. Faktanya, banyak lulusan pesantren yang menjadi profesor, jenderal, menteri, tokoh masyarakat, dan pelaku dunia usaha. Sejak dulu, proses kemerdekaan bangsa ini pun ditopang oleh tokoh-tokoh agama yang merupakan didikan pesantren,” jelasnya.

Ia menambahkan, dikotomi antara dunia agama dan dunia umum kini semakin tidak relevan, karena pesantren terbukti mampu berkontribusi di dunia pendidikan, sosial, bisnis, dan pemerintahan, tanpa kehilangan jati dirinya. 

Pesantren Go Green dan Ekoteologi

Terkait isu lingkungan, Ahmad Bahiej menyampaikan bahwa pesantren memiliki potensi besar dalam penguatan Go Green dan ekoteologi, sejalan dengan amanat Undang-Undang Pesantren nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren yang disahkan pada 15 Oktober tahun 2019 dan ditetapkan dalam Lembaran Negara tahun 2019 nomor 191. “Ciri khas pesantren memang tafaqquh fiddin, pendalaman ilmu agama. Tapi perkembangannya, pesantren juga didorong untuk memiliki peran sosial dan lingkungan di masyarakat,” ujarnya.

Ia menyebutkan, bahwa di berbagai daerah, pesantren telah menjadi pilot project dalam pengelolaan lingkungan dan kemandirian ekonomi. Di Jawa Timur, misalnya, banyak pesantren yang mengelola pertanian tebu dan hasilnya digunakan untuk menopang operasional pesantren. Di Yogyakarta, terdapat Pesantren Lintang Songo di Piyungan, Bantul, yang mengembangkan ekoteologi dan kewirausahaan melalui produksi sabun, pupuk cair, pertanian sayur, serta menjadi rujukan kampus swasta dalam program kewirausahaan mahasiswa.

“Pesantren-pesantren ini tetap belajar kitab di malam hari, tetap menjaga tafaqquh fiddin, tetapi di siang hari mereka mengembangkan pertanian, perkebunan, dan usaha produktif. Ini model pesantren masa kini,” katanya. Model serupa juga berkembang di Jawa Barat, di mana pesantren mengelola perkebunan dan pertanian secara professional, tanpa meninggalkan identitas keilmuannya.

Kemandirian Pangan dan Tantangan Pesantren Kota

Menanggapi isu global, termasuk potensi krisis pangan dunia, Ahmad Bahiej menilai pesantren sejatinya telah lama berkontribusi dalam penyediaan lumbung pangan. “Pesantren sebenarnya sudah melakukan mitigasi pangan sejak lama melalui pertanian, perkebunan, dan usaha produktif lainnya,” ujarnya.

Untuk pesantren di wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan, ia menegaskan bahwa kemandirian tidak hanya ditentukan oleh faktor fisik. “Lahan itu hanya salah satu elemen. Yang tidak kalah penting adalah penguatan skill. Pesantren kota bisa membangun kerja sama dengan masyarakat sekitar, meningkatkan kapasitas santrinya, dan mengembangkan peran non-fisik,” jelasnya.

Menurutnya, pesantren kota memiliki keunggulan lain, karena banyak santrinya menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sekolah, atau madrasah di perkotaan, sehingga memiliki potensi penguatan jejaring dan keilmuan yang luas.

Pengabdian Santri dan Penguatan Skill Sosial

Ahmad Bahiej juga mengungkapkan tentang tradisi pengabdian santri yang selama ini telah berjalan, seperti pola pengabdian mirip Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ia mencontohkan pesantren di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, yang mengirim santri ke Gunungkidul selama Ramadhan untuk mengajar, mengaji, dan menjadi imam. Di Bantul, bahkan terdapat pesantren yang mengirim santri hingga ke luar provinsi.

“Pengalaman-pengalaman seperti ini sangat berharga. Ke depan, pola pengabdian santri ini bisa diperkuat tidak hanya dalam aspek keagamaan, tetapi juga dalam penguatan skill kemasyarakatan, ekonomi, dan lingkungan,” pungkasnya.

Dengan penguatan sistem, struktur, dan SDM yang sinergis, Ahmad Bahiej optimistis pesantren akan semakin kokoh sebagai pusat pendidikan, kemandirian ekonomi, kepedulian lingkungan, dan pengabdian sosial bagi bangsa Indonesia. (rio/rls)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *